Pages

Minggu, 01 Januari 2012

MENGATASI KESULITAN BELAJAR


Dunia pendidikan mengartikan diagnosis kesulitan belajar sebagai segala usaha yang dilakukan untuk memahami dan menetapkan jenis dan sifat kesulitan belajar. Juga mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan kesulitan belajar serta cara menetapkan dan kemungkinan mengatasinya, baik secara kuratif (penyembuhan) maupun secara preventif (pencegahan) berdasarkan data dan informasi yang seobyektif mungkin.


    Dengan demikian, semua kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk menemukan kesulitan belajar termasuk kegiatan diagnosa. Perlunya diadakan diagnosis belajar karena berbagai hal. Pertama, setiap siswa hendaknya mendapat kesempatan dan pelayanan untuk berkembang secara maksimal, kedua; adanya perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat, minat dan latar belakang lingkungan masing-masing siswa. Ketiga, sistem pengajaran di sekolah seharusnya memberi kesempatan pada siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya. Dan, keempat, untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi oleh siswa, hendaknya guru beserta BP lebih intensif dalam menangani siswa dengan menambah pengetahuan, sikap yang terbuka dan mengasah ketrampilan dalam mengidentifikasi kesulitan belajar siswa. 

     Berkait dengan kegiatan diagnosis, secara garis besar dapat diklasifikasikan ragam diagnosis ada dua macam, yaitu diagnosis untuk mengerti masalah dan diagnosis yang mengklasifikasi masalah.
Diagnosa untuk mengerti masalah merupakan usaha untuk dapat lebih banyak mengerti masalah secara menyeluruh. Sedangkan diagnosis yang mengklasifikasi masalahmerupakan pengelompokan masalah sesuai ragam dan sifatnya. Ada masalah yang digolongkan kedalam masalah yang bersifat vokasional, pendidikan, keuangan, kesehatan, keluarga dan kepribadian.

Kesulitan belajar merupakan problem yang nyaris dialami oleh semua siswa. Kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam suatu proses belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk menggapai hasil belajar. Kesulitan belajar mencakup pengertian yang luas dan termasuk hal-hal di bawah ini:

1. Learning Disorder adalah keadaan dimana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan.

2. Learning Disabilities adalah ketidakmampuan seseorang yang mengacu pada gejala dimana anak tidak mampu tidak mampu belajar, sehingga hasil belajarnya di bawah potensi intelektualnya.

3. Learning Disfunction adalah gejala yang menunjukkan dimana proses belajar mengajar seseorang tidak berfungsi dengan baik meskipun pada dasarnya tidak ada tanda-tanda sub normalitas mental, gangguan alat indera atau gangguan psikologis lainnya.

4. Underachiever adalah mengacu pada anak-anak yang memiliki potensi intelektual diatas normal tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.

5. Slow Learner adalah anak yang lambat dalam proses belajarnya sehingga membutuhkan waktu yang lebih banyak.

    Bila diamati, ada sejumlah siswa yang mendapat kesulitan dalam mencapai hasil belajar secara tuntas dengan variasi dua kelompok besar. Kelompok pertama merupakan sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan, akan tetapi sudah hampir mencapainya. Siswa tersebut mendapat kesulitan dalam menetapkan penguasaan bagian-bagian yang sulit dari seluruh bahan yang harus dipelajari.
Kelompok yang lain, adalah sekelompok siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan yang diharapkan karena ada konsep dasar yang belum dikuasai. Bisa pula ketuntasan belajar tak bisa dicapai karena proses belajar yang sudah ditempuh tidak sesuai dengan karakteristik murid yang bersangkutan.
Jenis dan tingkat kesulitan yang dialami oleh siswa tidak sama karena secara konseptual berbeda dalam memahami bahan yang dipelajari secara menyeluruh. Perbedaan tingkat kesulitan ini bisa disebabkan tingkat pengusaan bahan sangat rendah, konsep dasar tidak dikuasai, bahkan tidak hanya bagian yang sulit tidak dipahami, mungkin juga bagian yang sedang dan mudah tidak dapat dukuasai dengan baik.

Langkah-Langkah Tindakan Diagnosa

Menurut C. Ross dan Julian Stanley, langkah-langkah mendiagnosis kesulitan
belajar ada tiga tahap, yaitu :

1. Langkah-langkah diagnosis yang meliputi aktifitas, berupa
a.Identifikasi kasus
b.Lokalisasi jenis dan sifat kesulitan
c. Menemukan faktor penyebab baik secara internal maupun eksternal

2. Langkah prognosis yaitu suatu langkah untuk mengestimasi (mengukur),
memperkirakan apakah kesulitan tersebut dapat dibantu atau tidak.

3. Langkah Terapi yaitu langkah untuk menemukan berbagai alternatif kemungkinan cara yang dapat ditempuh dalam rangka penyembuhan kesulitan tersebut yang kegiatannya meliputi antara lain pengajaran remedial, transfer atau referal.
Sasaran dari kegiatan diagnosis pada dasarnya ditujukan untuk memahami karakteristik dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan. Dari ketiga pola pendekatan di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pokok prosedur dan teknik diagnosa kesulitan belajar adalah sebagai berikut: 

1. Mengidentifikasi siswa yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar. Adapun langkah-langkah mengidentifikasi siswa yang mengalami kesulitan belajar.
v  Menandai siswa dalam satu kelas atau dalam satu kelompok yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar baik bersifat umum maupun khusus dalam bidang studi
v    Meneliti nilai ulangan yang tercantum dalam “record academic” kemudian dibandingkan dengan nilai rata-rata kelas atau dengan kriteria tingkat penguasaan minimal kompetensi yang dituntut.
v  Menganalisis hasil ulangan dengan melihat sifat kesalahan yang dibuat.
v  Melakukan observasi pada saat siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar yaitu mengamati tingkah laku siswa dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu yang diberikan di dalam kelas, berusaha mengetahui kebiasaan dan cara belajar siswa di rumah melalui check list
v  Mendapatkan kesan atau pendapat dari guru lain terutama wali kelas,dn guru pembimbing.

2. Mengalokasikan letaknya kesulitan atau permasalahannya, dengan cara mendeteksi kesulitan belajar pada bidang studi tertentu. Dengan membandingkan angka nilai prestasi siswa yang bersangkutan dari bidang studi yang diikuti atau dengan angka nilai rata-rata dari setiap bidang studi. Atau dengan melakukan analisis terhadap catatan mengenai proses belajar. Hasil analisa empiris terhadap catatan keterlambatan penyelesaian tugas, ketidakhadiran, kekurang aktifan dan kecenderungan berpartisipasi dalam belajar

3. Melokalisasikan jenis faktor dan sifat yang menyebabkan mengalami berbagai kesulitan.

4. Memperkirakan alternatif pertolongan. Menetapkan kemungkinan cara mengatasinya baik yang bersifat mencegah (preventif) maupun penyembuhan (kuratif).
Demikianlah prosedur dan teknik diagnosa kesulitan belajar, di atas dapat dipergunakan. Namun penerapannya dalam proses konseling bisa sangat bervariasi, bahkan ada beberapa pakar yang mempunyai pandangan yang bertolak belakang atau kontradiktif.

    Bahkan, menurut Carl Rogers, terapi atau pertolongan yang baik tidak membutuhkan ketrampilan dan pengetahuan diagnosa. Hal ini bertolak belakang dengan pendapat Wiliamson, Ellis, Freud, dan Thorn yang menekankan bahwa diagnosa sebagai langkah yang perlu dipakai dalam pendekatan konseling, termasuk konseling yang menangani kesulitan dalam belajar. Bahkan ditekankan bahwa diagnosa merupakan bagian dari kegiatan konselor dalam proses konseling. Seyogyanya seorang pembimbing atau konselor perlu mengingat dan dapat bertindak bijaksana dalam mempertimbangkan kapan sebaiknya diagnosa dipergunakan atau tidak untuk menolong siswa dalam mengatasi kesulitan belajar.
Ada berbagai macam cara untuk mengidentifikasi siswa, di antaranya seorang konselor dapat menggunakan check list. Di samping penggunaan check list ini sangat efektif dan efesien terutama bila jumlah siswa banyak, check list ini bisa berfungsi sebagai alat pengayaan (screening device) untuk mengidentifikasi siswa yang perlu segera atau skala prioritas yang harus ditolong.

Sebab-sebab yang mungkin mengakibatkan timbulnya kesulitan belajar, dapat digolongkan menjadi tiga yaitu:

1. Banyak sebab yang menimbulkan pola gejala yang sama. Seringkali gejala-gejala kesulitan belajar yang nampak pada seorang siswa disebabkan oleh faktor-faktor yang berbeda dengan yang lain yang memperlihatkan gejala yang sama.

2. Banyak pola gejala yang ditimbulkan oleh sebab yang sama. Sebab yang nampak sama, dapat mengakibatkan gejala yang berbeda-beda bagi siswa yang berlainan perlu diperhatikan adanya kesesuaian antara sebab dengan kondisi tempat tinggal siswa.

3. Sebab-sebab yang saling berkaitan dengan yang lain. Kesulitan yang menimbulkan reaksi dari orang-orang disekelilingnya atau yang menyebabkan dia bereaksi pada dirinya sendiri dengan cara yang selanjutnya , menyebabkan timbulnya kesulitan yang baru.
    Proses pemecahan kesulitan belajar pada siswa yaitu dimulai dengan memperkirakan kemungkinan bantuan apakah siswa tersebut masih mungkin ditolong untuk mengatasi kesulitannya atau tidak, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengatasi kesulitan yang dialami oleh siswa tertentu, dan dimana pertolongan itu dapat diberikan. Perlu dianalisis pula siapa yang dapat memberikan pertolongan dan bantuan, bagaimana cara menolong siswa yang efektif, dan siapa saja yang harus dilibatkan dalam proses konseling.

Dalam proses pemberian bantuan, diperlukan bimbingan yang intensif dan berkelanjutan agar siswa dapat mengembangkan diri secara optimal dan menyesuaikan diri terhadap perkembangan pribadinya dan lingkungannya.
Kemampuan yang Harus Dimiliki Konselor
Berkait dengan perannya sebagai seorang konselor, tiap individu konselor harus memiliki kemampuan yang profesional yaitu mampu melakukan langkah-langkah 
1. Mengumpulkan data tentang siswa

2. Mengamati tingkah laku siswa

3. Mengenal siswa yang memerlukan bantuan khusus

4. Mengadakan komunukasi dengan orang tua siswa untuk memperoleh keterangan dalam pendidikan anak.

5. Bekerjasama dengan masyarakat dan lembaga yang terkait untuk membantu memecahkan masalah siswa

6. Membuat catatan pribadi siswa

7. Menyelenggarakan bimbingan kelompok ataupun individual

8. Bekerjasama dengan konselor yang lain dalam menyusun program bimbingan sekolah

9. meneliti kemajuan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah

    Mengingat sedemikian pentingnya peranan dan tanggung jawab konselor, maka diperlukan dua persyaratan khusus bagi seorang konselor yaitu, memiliki gelar kesarjanaan dalam bidang psikologi dan mempunyai ciri-ciri dan kepribadian antara lain; dapat memahami orang lain secara objektif dan simpatik, mampu mengadakan kerjasama dengan orang lain dengan baik, memeliki kemampuan perspektif, memahami batas-batas kemampuan sendiri, mempunyai perhatian dan minat terhadap masalah pada siswa dan ada keinginan untuk membantu, dan harus memiliki sikap yang bijak dan konsisten dalam mengambil keputusan.
    Dengan dimilikinya kecakapan dan persyaratan khusus seperti terurai di atas, seorang konselor diharapkan mampu membantu mengatasi dan memecahkan masalah kesulitan belajar yang dialami oleh siswa. Namun perlu diingat bahwa keberhasilan suatu konseling akan bisa maksimal apabila ada keterbukaan dan kepercayaan antara pihak klien dan konselor.
Advertiser


Prosedur diagnosis kesulitan belajar

Ross dan Stanley (1956) menyusun tahapan diagnosis menjadi lima pertanyaan, yaitu:
1. Siapa-siapa yang mengalami gangguan?
2. Di mana kelemahan-kelemahan itu dapat dilokalisasikan?
3. Mengapa kelemahan-kelemahan itu terjadi?
4. Penyembuhan-penyembuhan apakah yang disarankan?
5. Bagaimana kelemahan itu dapat dicegah?
Burton (1952) menggambarkan tahap diagnosis sebagai berikut :
1) Diagnosis Umum
Dipergunakan tes baku seperti yang digunakan untuk evaluasi dan pengukuran psikologis dan hasil belajar. Tujuannya untuk menemukan anak yan diduga mengalami kelemahan tertentu.
2) Diagnosis Analitis
Dipergunakan tes diagnosis yang tujuannya untuk mengetahui letak kelemahan tersebut.
3) Diagnosis Psikologis
Teknik pendekatan dan instrument yang digunakan antara lain :
- Observasi terkontrol
- Analisis hasil kerja tertulis atau karangan
- Analisis proses dan respon lisan
- Analisis berbagai catatan objektif
- Wawancara
- Pendekatan laboratoris dan klinis
- Studi kasus
Tujuannya untuk memahami karakteristik dan factor yang menyebabkan terjadinya kesulitan.
Dari kedua pendekatan di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pokok prosedur dan teknik diagnosis kesulitan belajar sebagai berikut :
1) Mengidentifikasi anak yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar.
Dapat ditempuh dengan cara :
a) Membandingkan kedudukan anak dalam kelompoknya berdasarkan tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan oleh guru untuk suatu mata pelajaran tertentu.
b) Meneliti nilai raport kemudian membandingkan dengan nilai rata-rata kelas.
2) Melokalisasikan letak kesulitan atau permasalahannya.
Setelah menemukan anak yang diperkirakan mengalami kesulitan belajar, kemudian guru menentukan letak kesulitan yang dialami siswa misalnya pada aspek pengetahuan, aspek pemahaman, aspek keterampilan dan sebagainya.
3) Melokalisasikan jenis, faktor, dan sifat yang meyebabkan kesulitan belajar.
Faktor penyebab kesulitan belajar ini bisa disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal.
4) Memperkirakan alternatif pertolongan.
Guru memperkirakan hal-hal sebagai berikut :
a) Apakah anak itu masih mungkin ditolong?
b) Berapa lama waktu yang diperkirakan untuk membantu mengatasi kesulitan tersebut?
c) Kapan bantuan itu dilaksanakan?
d) Bagaimana cara menolong anak tersebut?
e) Siapa saja yang perlu dilibatkan untuk menolong anak tersebut?
5) Menetapkan kemungkinan cara mengatasi kesulitan yang dialami anak.
Guru menyusun suatu rencana atau kegiatan yang dapat dilakukan dalam menolong mengatasi kesulitan belajar. Rencana ini sebaiknya berisi tentang :
a) Cara-cara yang dapat dipergunakan untuk menolong anak yang mengalami kesulitan belajar.
b) Cara-cara untuk menjaga agar kesulitan tersebut tidak dialami kembali oleh anak.
Rencana ini dapat dikomunikasikan pada pihak yang berkepentingan seperti wali kelas, orang tua, guru lain atau ahli yang berkompeten.
6) Tindak lanjut
Tahap ini yaitu melaksanakan bantuan, mengikuti perkembangan anak yan mengalami kesulitan belajar, dan mengadakan evaluasi terhadap bantuan atau pertolongan yang telah diberikan kepada anak untuk mengetahui ketepatan atau keberhasilannya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

teks blog